Postingan

Masih Takut Jadi Perhatian?

Pinkhan Althania Varaditha  Fakultas Komunikasi dan Bahasa, Program Studi Hubungan Masyarakat, Universitas Bina Sarana Informatika  Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan komunikasi dengan orang-orang yang kita ingin tuju. Akan tetapi, perlu kemampuan yang lebih untuk berbicara agar pesan yang ingin kita sampaikan, dapat diterima baik oleh lawan bicara. Di dunia pekerjaan, kemampuan ini sangat diperlukan. Terlebih lagi jika bekerja di bagian yang sering berhubungan dengan orang-orang penting bagi perusahaannya. Kemampuan yang dimaksud adalah Public Speaking. Public Speaking merupakan kemampuan berbicara di depan khalayak, bahkan bisa juga disebut keterlampilan yang dimiliki seseorang, untuk menyampaikan pesan, hingga memengaruhi pikiran target bicaranya (audiens/pendengar). Kegiatan Public Speaking ini telah dilakukan sejak abad SM (Sebelum Masehi). Dahulu di Athena Kuno, para pemuda, sebagai warga negara, diminta untuk memberikan pidato yang efektif. Sehingga, So...

TOLONG, DONG, TOLONG!

Abis nonton berita tentang pasar yang padat pengunjung, banyak masyarakat yang reaktif covid-19, bahkan masa PSBB di Jakarta yang diperpanjang. 2 bulan lebih dikarantina. Tapi masih ada aja yang ngebandel keluar cuma buat hal yang gak penting. Anak kecil masih keliaran sana sini, masyarakat yang keluar gak pakai masker, jarak di kerumunan gak dijaga, segalaan ada bukber lah, reunian lah. “Daerah gue masih zona aman, jadi gak salah dong gue keluar?” “gue cuma sebentar mainnya,” “PSBB PSBB, tekucing , masih banyak tuh yang keluar. Masa gue doang disalahin,” Mau sampai kapan egois begini, cuy? Yang masih zona aman, ya oke lah. Cuma kalo keluarnya lewatin/menuju ke zona yang merah ataupunnnn yang kita gak paham situasinya, siapa yang kena imbas nanti? Kalo masih nurutin ego yang “ masih banyak yang keluar, gapapa tuh ”, ilangin dulu, tolong. Seenggaknya jadi bagian orang yang PINTER, WARAS. Yang keluar rumah, tapi urusannya penting, jangan lama-lama di luarnya...

Corona, Pasti Berlalu

H-2 Ramadan, ya?   InsyaaAllah. Tapi tahun ini berbeda banget suasananya, ndak apa , kan? Harusnya, sih, gak masalah dong. Karena bukan suasananya yang berbeda, tapi tingkatan keimanannya juga harus berbeda. Berbeda yang positif tapi ya, lebih meningkat dari sebelumnya. Udah capek rebahan terus? Pusing ya tugasnya semakin berkembang biak ?  Mikirin kapan si Cocor cepet ilang, biar bisa buka puasa bareng temen, sobat, pacar, eh? Udah berapa lama sih kita #DiRumahAja? Ngitungin gak? Sebenernya…. Kita dikasih ujiannya bukan gara-gara Si Cocor yang bikin jadi #DiRumahAja, loh. Tapi tentang ketidaktauan kapan ini berakhir. Coba diinget lagi kisah para shahabiyah. Nabi Yusuf yang gak tau kapan bakal keluar dari penjara. Nabi Ayyub, yang bertahun-tahun dikasih cobaan, salah satunya sakit, pun gak tau kapan bakal sembuh. Nabi Yunus, yang ditelan ikan, juga gak tau kapan/akankah keluar dari perut ikan tersebut. Beliau-beliau aja yang Syurganya dijamin, gak dikas...

Ada yang Baru tapi Catatan Lama

Dunia baru, suatu ketertarikan bagi orang yang suka bereksplorasi. Salah satunya, menyukai hal-hal yang berbau Negara asing. Siapa, sih, yang gak suka sama dunia per-Jepang-an? Mulai dari keindahan alamnya, kebersihan lingkungannya, kecanggihan teknologinya, J-Pop music , bahkan anime yang sudah sangat terkenal di ranah internasional. Awal suka sama hal-hal berbau Jepang gue, sekitar SMP, dimulai dari salah satu idol grup yang anggotanya banyak ituuu. U know what I mean, yea. Selain suka lagu dan dancing JKT 48, gue juga suka anime. Doraemon bisa dibilang anime, gak sih? Hahaha. Baru banget bulan kemarin, gue mencoba mendaftar organisasi/komunitas teater Jepang buat mahasiswa gitu. Infonya dapet dari salah satu kakak kelas di SMA gue. Entah kesambet apa gue langsung daftar, tanpa mikirin tugas-tugas kampus kedepannya. Sepekan kurang setelah daftar. Tiba-tiba ada pesan di WhatsApp , judulnya “Audisi Calon Anggota <nama organisasi> 2020”. At that moment too, ...

Defisit BPJS dari Kelenaan Pemerintah?

Hafizah Afifah, Pinkhan Althania Varaditha, Putri Delfi Alyphya Fakultas Komunikasi dan Bahasa, Program Studi Hubungan Masyarakat, Universitas Bina Sarana Informatika Berawal dari PT.Askes (Persero) yang ditunjuk sebagai penyelenggara program jaminan sosial dibidang kesehatan. Hingga akhir masa jabatan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), 1 Januari 2014, PT.Askes (Persero) pun berubah menjadi BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan   Sosial) Kesehatan. Langkah menuju cakupan kesehatan semesta-pun semakin nyata. (liputan6.com : 13 Desember 2013, “PT Askes Siap Berubah Jadi BPJS Kesehatan”) Memasuki periode kedua Joko Widodo menjadi presiden Indonesia, masih saja negara kita terlilit masalah keuangan. Terutama pada BPJS yang memiliki peran besar untuk menyejahterakan rakyat Indonesia, sudah mengalami defisit yang sangat tinggi hingga mencapai RP32T di BPJS Kesehatan. (cnbcindonesia.com : 7 Oktober 2019, “Wamenkeu Ungkap Borok BPJS Kesehatan Hingga Defisit Rp32T”) Kementerian Keuangan ...

BAZNAS Menembus Batas Kepulauan Mentawai

Gambar
Langit malam berpamit pertanda hari telah pagi. Hari ini akan menjadi hari yang padat, perjalanan panjang menuju suatu pulau kecil bagian Indonesia Barat untuk melakukan tugas lapangan. Pekerjaan yang jarang dilakukan bagi seseorang yang terbiasa dalam ruangan dan duduk di depan layar laptop selama sepuluh jam, bahkan lebih. NN, atau biasa dipanggil Nuna, merupakan salah seorang karyawan dari lembaga legendaris di Indonesia. Lembaga yang bergerak di bidang perekonomian Islam, kemanusiaan, dan juga pendidikan. BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) Kebon Sirih bagian MCB (Mualaf  Centre  BAZNAS). MCB memiliki salah satu program utama, yaitu Pembinaan Mualaf. Pembinaan Mualaf tersebut membutuhkan aktivitas yang terjun langsung ke masing-masing daerah para mualaf. Bertemu mereka. Melihat situasi dan kondisi sejauh mana mereka menjadi insan yang baru saja terlahir kembali (mualaf). NN bersama rekan kerjanya, DT, akan terbang menuju Pulau Sumatera, tepatnya di Sumatera Barat, ...

Muhammad Alkaffi Refdila, Jatuh Bangunnya Anak Muda

Gambar
Berjalan di dunia  entrepreneur,  memang membuat waktu dan ruang yang kita miliki tidak terbatas untuk pekerjaan yang kita sukai. Dibandingkan menghabiskan waktu untuk belajar yang mengharuskan kita mengikuti ‘aturan main’ sang pengajar bahkan tempat belajar itu sendiri. Sebagai anak muda, Muhammad Alkaffi Refdila (21), ingin memiliki ruang dan waktu yang tidak terikat atau bisa disebut tidak monoton. Kafi, sapaan akrabnya, hampir memutuskan untuk melepas kuliah, tugas-tugas di tempat usahanya lah yang membuat ia  kewalahan  di perkuliahannya. Sebenarnya sejak SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) ia sudah berpenghasilan, karena memang tuntutan sebagai anak kejuruan untuk melakukan magang lalu mendapatkan upah. Tetapi setelah lulus, ia sengaja memberikan gap untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain sengaja, dari keluarga juga meminta untuk ia bekerja, “Karena faktor ekonomi, orang tua menekankan, setelah (lulus) sekolah langsung bekerja, alham...